Senin, 06 Oktober 2008

Pengumuman Lomba Puisi "Bulan Puisi Menyapa Indonesia"

Dari keseluruhan puisi yang masuk ke panitia Lomba Puisi "Bulan Puisi Menyapa Indonesia", Dewan Juri memutuskan para pemenang sebagai berikut:

Juara I: "Ingatan Sejarah" karya Andi Dwi Handoko
Juara II: "Rambu-rambu Lalu Lena" karya Jarot Heru P
Juara III: "Tutur yang Tak Pernah Usai" karya Jo Pakagula

Selamat kepada para pemenang.
Penyerahan hadiah akan dilakukan bersamaan dengan acara Diskusi dan Baca Puisi "Bulan Puisi Menyapa Indonesia" pada Rabu, 8 Oktober 2008 pukul 19.30 WIB di Kafe Buku Green House, Solo.

Para pemenang, peserta, dan kawan-kawan lain yang berminat silakan datang. Gratis.

Terima kasih
Panitia Lomba Puisi "Bulan Puisi Menyapa Indonesia"

Rabu, 03 September 2008

Pengunduran Sayembara Bulan Puisi

Karena satu dan lain hal, Lomba Penulisan Puisi yang diadakan Buletin Sastra Pawon akan diundur sekira satu bulan.

penerimaan naskah diundursampai 30 September 2008
pengumuman di Blog Pawon Sastra dilakukan tanggal 6 Oktober 2008
acara di Green House dilakukan sekitartanggal 8 Oktober 2008.

Demikian pengumuman ini. Harap maklum

Redaksi Pawon

Jumat, 15 Agustus 2008

bulan puisi menyapa Indonesia

sayembara menulis puisi tingkat umum

tema : indonesia hari lalu, hari ini, hari esok

hadiah total ratusan ribu rupiah dan puisi-puisi terpilih akan dibukukan
pada pawon edisi khusus puisi yang akan diacarakan di GreenHouse akhir agustus

• naskah puisi diprint dan dicopy dalam bentuk cd.
• naskah dilampiri formulir pendaftaran (yang ada di Pawon ed. Agustus), dan dikirim ke :
secara langsung : charabook, Jl. Ir. Sutami 25 (perempatan sekarpace)
secara pos : eLtorros, vila bukit cemara no. 1 mojosongo solo
• naskah paling lambat diterima tanggal 30 Agustus 2008 (cap pos)
• pemenang akan diumumkan di pawonsastra.blogspot.com tanggal 6 septemper 08
• acara launching akan diacarakan tanggal 8 September 2008 di GreenHouse,Sriwedari



didukung

Pawon GreenHouse CharaBook


contact person :
yunanto 085293326766
yudhi 0271.7016320

Taufik Ismail dan Program Gerakan Sastra

Oleh: Abdul Aziz Rasjid

Tulisan ini ingin menyoroti salah satu sastrawan sekaligus penyair yang tiada henti, berusaha memberikan kontribusi bagi pembangunan kebudayaan Indonesia. Taufik Ismail (Lahir 25 Juni 1935) salah satu sastrawan yang memiliki keinginan besar untuk memajukan budaya bangsanya, utamanya pembangunan budaya membaca dan menulis bagi putra putri Indonesia. Dengan adanya keinginan ini ia telah memberikan gagasan pemikiran, kepeloporan, dan kepedulian untuk kemajuan budaya bangsa, yang diwujudkan dalam gerakan sastra bagi generasi bangsa di sekolah-sekolah menengah dan universitas

Latar Belakang Gerakan Sastra
Gerakan sastra yang digagas Taufik Ismail, ada bukan tanpa sebab, didasari keresahan yang mulai terpatri pada tahun 1953-1956 Taufik merasa bahwa dirinya bersama puluhan ribu anak SMA lain seangkatannya di seluruh tanah air telah menjadi generasi nol buku, yang rabun membaca dan pincang mengarang. Nol Buku disebut karena pada kala itu, mereka tidak mendapat tugas membaca melalui perpustakaan sekolah sehingga generasi yang ada “rabun membaca”. Sedangkan istilah “pincang mengarang” adalah karena tidak adanya latihan mengarang dalam pelajaran di sekolah. Keadaan generasi yang pincang mengarang dan rabun membaca inilah yang juga diindikasikan Taufik menjadi sebab mendasar amburadulnya Indonesia hari ini, karena dimungkinkan generasi nol buku inilah yang kini menjadi warga Indonesia terpelajar dan memegang posisi menentukan arah Negara di seluruh strata, baik di pemerintahan atau swasta.
Untuk membuktikan keresahannya ini kemudian taufik melakukan perbandingan pelajaran membaca dan mengarang antara siswa Indonesia dan siswa dari beberapa negara lain, dalam sebuah survei sederhana ia mendapat perbandingan yang mencengangkan. Di saat pelajar Indonesia tidak mendapatkan tugas membaca dan mengarang, pelajar SMA di Amerika Serikat sudah diharuskan membaca 32 buku, bahkan negara berkembang Thailand sudah diharuskan membaca lima buku.
Didorong keresahan yang semakin menguat lahirlah keinginan yang kuat pada diri Taufik Ismail untuk mewujudkan kebudayaan membaca dan menulis pada generasi bangsa agar lebih baik. Ia bersama Horison (Majalah sastra dimana Taufik Ismail menjadi Redaktur Senior dan salah satu Dewan Redaksi) menyusun enam butir kegiatan gerakan sastra bagi Pendidikan Sastra di Indonesia, dimana sasarannya adalah siswa SMU hingga Mahasiswa. Bentuk-bentuk kegiatan sastra berupa Sisipan Kaki Langit (SMU, Madrasah Aliyah, Pesantren, SMK) dalam Majalah Horison, Pelatihan Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra untuk Guru Bahasa dan Sastra di seluruh propinsi (Februari-Oktober 2002), Program Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya (SBSB) dan Program Sastrawan Bicara, Mahasiswa Membaca (SBMM).
Kenapa harus sastra?
Taufik Ismail menjawab, membaca buku sastra mengasah dan menumbuhkan budaya baca buku secara umum. Latihan menulis mempersiapkan orang mampu menulis di bidangnya masing-masing.

Gerakan Sastra Sebuah Program Nasional
Gerakan sastra yang digagas Taufik Ismail bagi Pendidikan Sastra di Indonesia dapat dikatakan sebuah program nasional. Disebut program karena gerakan sastra Taufik memiliki kejelasan tujuan, metode, sasaran, target, parameter, waktu, dan eksekutor. Disebut nasional karena wilayah yang dibidik bersifat menyeluruh (SMU, Madrasah Aliyah, Pesantren, SMK, dan mahasiswa setanah air)
Tujuan: gerakan sastra ini melihat latar belakang gagasannya memiliki kejelasan tujuan yaitu menumbuhkan budaya membaca dan menulis bagi pelajar Sekolah menengah, santri pesantren, maupun mahasiswa.
Metode: Menurut hemat penulis enam butir kegiatan sastra yang berupa Sisipan Kaki Langit (SMU, Madrasah Aliyah, Pesantren, SMK) dalam Majalah Horison, Pelatihan Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra untuk Guru Bahasa dan Sastra di seluruh propinsi (Februari-Oktober 2002), Program Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya (SBSB) dan Program Sastrawan Bicara, Mahasiswa Membaca (SBMM) merupakan metode.
Dimana metode ini saling terkait dan memperkuat varian-varian yang dapat menumbuhkan budaya membaca dan menulis bagi pelajar-pelajar di sekolah menengah, santri pesantren , maupun mahasiswa.
• Sisipan Kaki Langit (SMU, Madrasah Aliyah, Pesantren, SMK) secara tidak langsung membuktikan bentuk kepeloporan Taufik dan keseriusannya dalam mewujudkan keinginannya dalam pembentukan budaya membaca dan menulis untuk pelajar SMU, Madrasah Aliyah, Pesantren, SMK. Buktinya Taufik sebagai Redaktur Senior dan salah satu Dewan Redaksi mampu menjadikan Horison sebagi alat untuk mencapai tujuannya, karena dilihat dari isinya Kaki Langit menurut hemat penulis memiliki hubungan dengan tujuan Taufik, yaitu: Pertama, Sosok dan karya di kaki langit yang mengenalkan pada siswa tentang beberapa sosok sastrawan Indonesia, karyanya, ulasan karya dan proses kreatifnya dapat dijadikan influence bagi siswa untuk menulis, mengambil referensi, sebagi pemacu semangat dalam proses kreatif penulisan siswa. Kedua, kaki langit menjadi wadah bagi siswa dan guru bahasa dan sastra Indonesia untuk mengenalkan karyanya, bagi siwa di sisipan kaki langit ini mereka dapat menuliskan sajak, cerita mini, esai dimana karya siswa ini lalu diulas oleh Horison, ulasan ini dapat dikatakan sebagai edukasi dan evaluasi dari pengembangan tekhnik menulis bagi proses kreatif siswa, sedangkan guru bahasa dan sastra Indonesia dapat berbagi pengalaman dalam metode pengajaran bahasa dan sastra Indonesia. Untuk mempermudah akses pengkomsumsian pada siswa, Sisipan Kaki Langit Horison dibagikan ke SMU, Madrasah Aliyah, Pesantren, SMK secara gratis, disini dapat dikatakan bahwa Sisipan Kaki Langit Horison sebagai media gerakan sastra taufik bertekad untuk menjumpai mereka secara langsung di tempat mereka mengenal karya sastra.
• Pelatihan Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra untuk Guru Bahasa dan Sastra di seluruh propinsi (Februari-Oktober 2002), Program Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya (SBSB) dan Program Sastrawan Bicara, Mahasiswa Membaca (SBMM) sebagai ajang promosi gagasan pemikiran Taufik untuk membudayakan membaca dan menulis, dan juga perjumpaan secara langsung Taufik dan sastrawan dengan sasaran gerakan sastra.
Sasaran: Dalam perkembangan gerakan sastra yang bertujuan menggairahkan budaya membaca dan menulis, ternyata tidak hanya mahasiswa dan pelajar yang dijadikan sasaran gerakan sastra Taufik tetapi juga Guru-guru Bahasa dan Sastra Indonesia. Hal ini penting karena Guru Bahasa dan Sastra adalah eksekutor terpenting dalam lingkup terkecil (Sekolah menengah, pesantren) untuk membudayakan siswa membaca dan menulis.
Target: tentu saja dilihat dari tujuan gerakan sastra taufik maka target yang diharapkan adalah terciptanya budaya menulis dan membaca di pelajar dan mahasiswa maupun guru.
Parameter: Adanya kebudayaan membaca dan menulis bagi siswa SMU, Madrasah Aliyah, Pesantren, SMK dan Mahasiswa. Melihat parameter yang diharapkan, maka secara ringkas hasil idealnya adalah adanya karya yang dihasilkan oleh siswa SMU, Madrasah Aliyah, Pesantren, SMK dan Mahasiswa. Persoalan selanjutnya bagaimana karya mereka (baik masih sebagai mahasiswa atau pelajar maupun setelah mentas sebagai mahasiswa atau pelajar) dapat terkonsumsi oleh masyarakat?
Untuk mengkaji hal ini tentu kita harus mengkaji lebih dalam tentang banyak hal, tetapi dalam penulisan ini penulis mengkonsentrasikan diri untuk membahas sebuah soal, yaitu Sistem Industri budaya (lebih khusus akan berbicara masalah penerbitan karya). Kekhususan terhadap pembahasan diatas bukan berarti menafikkan faktor lain tetapi untuk tetap segaris dengan tujuan penulisan.

Sistem Industri Budaya
Secara umum keadaan Sistem Industri Budaya di Indonesia terbagi menjadi dua kubu, kubu pertama adalah sistem industri yang market oriented dimana secara jelas mengejar pengembangan modal dan kubu kedua adalah sistem industri yang tidak mengejar pengembangan modal. Dua hal ini memili corak tersendiri, karena memang secara dasar memiliki watak yang berbeda.
Sistem industri market oriented dilihat dari wataknya yang melakukan kapitalisasi produksi untuk pengembangan modal membentuk konsekuensi logis bagi penulis, yaitu berkompromi dengan kepentingan kapitalis, dalam sistem ini karya sebagai hasil produksi pemikiran dan kekreatifan penulis memang diharuskan sesuai dengan keinginan pasar yang dipersepsikan oleh kapitalis. Singkatnya idealisasi konsep penciptaan karya yang diyakini benar oleh penulis harus dipinggirkan dan tunduk pada keinginan pasar yang dipersepsikan oleh kapitalis. Efek yang terjadi penulis hanya akan menjadi tenaga kerja produktif, karena tujuan karya hanya untuk popularitas dan pendapatan financial reward yang relatif besar.
Sistem industri yang tidak mengejar pengembangan modal dapat dikatakan sebagai kegiatan penerbitan yang tidak dimaksudkan untuk pengembangan modal, dalam bidang sastra seperti Horison, Komunitas Sastra Indonesia, forum Lingkar Pena, dan Teater Utan Kayu. Konsekuensi logis bagi penulis, karyanya agar dapat tersosialisasi harus sesuai dengan standard yang dipatok oleh komunitas itu. Sistem ini memberi kebebasan pada penulis untuk menuliskan idealisasinya tetapi memang harus sesuai standard yang dipatok, maksudnya jika yang dihasilkan karya sastra maka karya memiliki standar estetik yang dipatok komunitas itu, hasil yang didapatkan jika penulis tetap bertahan pada idealisasinya maka akan lahir tenaga ahli produktif dimana karya bersifat murni pemikiran yang dieksperimenkan dalam proses kreatif.
Di sinilah menurut penulis letak pekerjaan rumah terpenting gerakan sastra Taufik, yaitu generasi hari ini harus dapat membuat karya yang memiliki standar yang baik di bidang penulisan apapun, agar penulis menjadi tenaga ahli dalam bidangnya bukan hanya tenaga kerja.
Pertanyaannya, bagaimana menciptakan penulis-penulis dengan karya yang mempunyai standar baik.

Independensi Akal Pikiran dan Keberanian Berpikir
Taufik Ismail dalam hemat saya adalah model bagi independensi akal pikran sekaligus model keberanian berpikir. Mengapa saya mengatakan demikian, karena dalam program gerakan sastra yang dipelopori Taufik, potensi berpikir dia dalam menganalisis kehidupan jamannya dan otoritas yang ia miliki, tidak lantas menjadikan dia sebagai agen pelestari dari otoritas pemikiran mapan.
Ia dengan kesadarannya mengetahui bahwa generasi yang ada adalah generasi nol buku dan pincang mengarang tetapi ia tak kunjung diam, tetapi mengelola keresahannya dalam sebuah gerakan untuk mengubah hal itu. Semacam melakukan pencerahan.
Tetapi, gerakan yang ia lakukan saya kira masih bersifat elitis yaitu terpusat dimana gerakan ini eksis bertumpu pada keeksisan Horison saja. Padahal tidak selamanya Horison itu ada, dan dapat menampung semua gagasan-gagasan pemikiran yang dituliskan dalam bentuk karya sastra, apalagi jika karya tersebut tidak sesuai standard yang dipatok Horison.
Lalu saya kira, untuk menularkan independensi akal pikiran dan keberanian berpikir yang dimiliki Taufik, sudah seharusnya ia mengubah diri dari gerakan elitis menjadi gerakan populis. Dimana gerakan ini bertumpu pada basis-basis terendah (daerah), dengan menggunakan kepopulisan, kepeloporan Taufik di antara para sastrawan yang tersebar di daerah untuk dirangkul bersama, menggelorakan independensi akal pikiran dan keberanian berpikir untuk mensuarakan kebutuhan-kebutuhan daerah, memprasastikan permasalahan daerah, lewat karya sastra.
Berarti di sini akan lahir banyak komunitas sastra, entah di kampus bagi mahasiswa, di pesantren bagi para santri, atau bersama dengan pelajar, pecinta sastra ditempat-tempat tertentu yang disepakati. Sastrawan yang sudah punya nama di daerah menjadi penggagas daya berpikir, mengedukasi, dan juga sekaligus eksekutor gerakan sastra Taufik, kelebihannya sastrawan mengeksekusi langsung, pengalamannya dapat dijadikan rujukan karena disini sastrawan benar-benar mengetahui medan, sehingga tidak gagap dalam membaca tanda-tanda. Lewat komunitas ini karya sastra dapat diperkenalkan, dimana buku sastra digunakan untuk mengasah dan menumbuhkan budaya baca buku secara umum, dan juga dapat dianalisa dan dipelajari lebih dalam. Di lain sisi komunitas ini juga akan sebagai ajang latihan menulis, saling mengevaluasi, untuk mempersiapkan individu di dalamnya mampu menulis di bidangnya masing-masing dengan secara matang. Dan lebih penting menyatukan independensi pemikiran dan keberanian berpikir secara bersama.
Sekaligus hal ini juga dapat mengikis kapitalisasi produk sastra karena jika diibaratkan tanah maka sabuk hijau atau hutan sudah diberdayakan. Hal ini penting, karena penulis muda tidak akan berorientasi financial reward tetapi lebih berorientasi mensuarakan keadaan jaman. Dan karya sastra tidak terjebak lagi pada inovasi bentuk tetapi dengan sendirinya akan memasuki pada inovasi isi.
Jika kemudian hal ini dipersoalkan dengan masalah pensosialan karya, saya kira masih terdapat banyak ruang alternatif yang bisa digarap agar masyarakat membaca karya, persoalannya tinggal bagaimana penulis-penulis memaksimalkan diri dalam berkarya, sambil bersama komunitas yang ada menyiasati peluang-peluang pemasaran dan mengenalkan karya pada masyarakat.
Karya sastra akan benar-benar mensuarakan, memberi pencerahan pada pembacanya, menyadarkan akan keadaan zamannya. Dan bukankah karya yang ditulis dan dibaca untuk generasi pasca gerakan sastra Taufik nantinya tidak hanya didasarkan melahirkan generasi yang eksis untuk terus menulis dan membaca, tetapi generasi dimana karya yang dilahirkan adalah karya berkualitas dan dapat berbicara tentang tanah airnya pada dunia.
Jika kemudian persoalannya adalah karya sastra masih ada yang tak mendapat ruang, itu bukan berarti karya tersebut dikatakan gagal, sepaham dengan pemiran Ahmadun Yosi Herfanda, saya menyetujui bahwa pada akhirnya: Karyalah yang akan bicara kepada dunia bagaimana sesungguhnya kualitas kesastrawanan seseorang dan dimana ia harus ditempatkan dalam sejarah sastra suatu bangsa.

Purwoketo, Mei 2008

Abdul Aziz, lahir di Malang 4 Maret 1985. Esainya termuat dalam buku antologi The Spirit Of Love (LPM Obsesi STAIN Purwokerto-Bukulaela). Mahasiswa Fak Psikologi UMP, bergiat di Teater Wungu Psikologi dan Komunitas Sastra Bunga Pustaka. Juga menulis cerpen dan puisi tetapi belum terpublikasi. Alamat Jln. Kenanga 2 M3 No 1 Rt 09 Rw 10 Desa Ledug, Kec. Kembaran, Kab. Banyumas,. Purwokerto, Jawa Tengah, 53182.

Siapa (Apalah) Dia Itu…

Oleh: Mohamad Fauzi

/1/
Hal yang paling susah untuk aku tulis selama ini: Aku, Fauzi. Namun aku harus memberanikan diri untuk menggerakan syaraf-syaraf jari yang sudah seakan lumpuh untuk bergerak. Teman aku pernah bilang bahwa aku itu hampir punya pendapat untuk segala hal, kecuali satu: Fauzi, aku sendiri. Tentu, teman aku itu terlalu membesar-besarkan.
Aku yang sekarang memang bukan aku yang dulu. Aku sudah bermetamorfosis menjadi “dia” yang jauh nan asing. Dia, karena aku harus juga mencarinya untuk memahaminya. Dan untuk itu aku harus bertanya. Apakah dia berada di antara sel-sel otaknya, dalam arti dia sudah menjadi manusia rasionalis? Dia sekarang agak lebih suka berpikir hampir hal-hal yang menurut orang filosofis-ontologis. Dia, sudah mulai menjelajah yang hal-hal di luar dunianya yang dulu yang sederhana dan mudah. “Mencoba untuk peka terhadap keadaan yang terjadi pada orang-orang di sekelilingnya, masyarakatnya, negaranya, dunianya,” katanya.
Apakah dia berada di sel-sel hatinya yang mulai membeku, menjadi manusia perasa namun tidak bisa merasakan akan dirinya sendiri? Dia, dalam perjalannan yang sedang singgah di halte kehidupan kampus ini, sedang mencoba membangun Dunia Es yang sunyi dan dingin. Dia sudah mulai membeku sejak entah kapan. Tapi aku tidak tahu kapan musim kemarau ataupun musim semi akan menghampiri dia. Aku asing akan dia dan dunianya.
Dia, Fauzi, memang bukan Chairil yang lantang mendeklarasikan dirinya:

AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Aku memang tidak serta merta menjadi “aku” yang “sudah sampai waktuku”. Aku masih tersesat di antara menit-menit, dan detik-detik kehidupan yang sesaat ini. Aku sering kali bingung terhadap diri ini yang men-dia, yang lain lagi bukan aku. Aku sering berpikir aku sudah menjadi “binatang jalang yang terbuang dari kumpulannya”. Betapa tidak, untuk menyapa teman-temanya saja dia begitu merasa asing terhadap mereka.tentu bukan karena teman-temannya yang berrubah tapi Karen aku telah menjadi seorang “dia” yang jauh dan asing. Dia pernah menceritakannya masalah ini pada beberapa teman, dan sayangnya hanya pada satu orang teman saja dari satu kelas kuliahnya.
Tapi sering kali, dan berkali-kali, dia begitu merindukan canda tawa teman-temannya. Dia merasa betapa susah hidup tanpa teman-temanya. Dunia memang terkadang terasa begitu luas, saat-saat dia berada di pingggir halaman-halaman buku. Dia seorang bibliofilisme—paling tidak itulah obesesinya, yang jika dosennya mengajarkan hal-hal yang menurut dia sebenarnya mudah saja dibaca di halaman-halaman buku dan tentu saja lebih lengkap, maka dia sering kali memboloskan diri untuk mencari yang “lain”. Tapi dia ingin sekali menjadi mahasiswa yang benar, sekali lagi dengan kata “maha”, dan benar-benar mahasiswa.
Tapi, pernah suatu ketika dia terjebak di perpustakaan. Saat itu hujan deras dan dia sudah begitu lama memelototi halaman-halaman buku, dia ternyata merindukan teman juga. Padahal menurut sebuah petuah yang terdapat dalam sebuah buku dikatakan bahwa teman terbaik adalah buku. Karena jika seorang berteman dengan yang lainnya maka bisa jadi temannya itu lebih bodoh dari dia dan itu berbahaya; atau bisa jadi temannya itu lebih pintar tapi hal ini akan menghalanginya untuk lebih baik dan pintar karena orang itu akan terus berada di bawah baying-bayang pemikiran temannya itu, kalau dia tidak bisa memamnfaatkan temannya itu; dan bisa juga dia berteman namun si teman itu Cuma akan menjerumuskannya terhadap situasi yang tidak kondusif (maaf aku lupa kata-katanya yang tepat, seingat aku buku itu berjudul Humor, Petuah, Sufi).
Dan sayangnya dia menghendaki seorang teman yang bisa membuat tertawa, menangis, resah, gelisah, gundah, tidak menentu, akan tafsiran-tafsiran dan pemikiran-pemikiran tentang makna, arti, perjuangan kehidupan bahkan hal-hal yang tidak masuk akal dan tidak mungkin dirasa. Dia menyebutnya sebagai seorang “Teman Sepembelajaran”. Dan dia tidak peduli apalah temannya seorang pengangguran, pengemis, si gila, hedonis…Anehnya belum ada orang yang mau memperkenalkan dirinya sebagai seorang teman sepembelajaran! Tidak juga dosen-doesnnya (dia pernah menulis tentang masalah ini).
Ah, barang kali ini cara lain untuk memahami dan mengerti tentang apa itu teman, sahabat, kawan dan entah apa lagi bahasanya. Tapi sering dia merasa harus menjadi “peng-abadi” dari ekspresi persahabatan, terutama saat dia membawa kamera. Sering dia ditegur sama orang, “Kok fotonya teman-teman kamu semua! Mana fotomu?” Dia cuma bergumam bahwa suatu saat dia mungkin berkesempatan untuk menuliskan kenapa harus seperti itu (dan dia sudah menuliskannya dengan judul “Potret-potret Imajiner”. Agak jelek sih tulisannya. Maklum baru belajar menulis).

/2/
Dia tidak sampai begitu tega untuk tidak menerima “rayuan” yang menghinggapi setiap sel otaknya, seperti yang dialamai oleh Chairil. Dan ini sering kali memosisikannya pada hal-hal yang paradoks: menerima rayuan dan menghujat rayuan kuliah. Inilah salah satu penyebab kenapa dia sering kali tidak masuk kuliah walau setiap hari ke kampus, dan sering terjerat di perpus, kakus, dan akhinya pupus di ujung penyesalan.
Dalam persepsi dia, orang tidak akan pernah menjadi “pintar” (kalau harus memakain kata ini. Aku lebih suka kalau pintar diartikan sebagai pembelajar) kalau terlalu banyak kuliah dengan system yang diterapkan pada dia, sekali lagi system yang diterapkan pada dia. Dalam sejarah belajar dia, adalah suatu yang ironis sekali bahwa dia tidak bisa membaca sampai hendak menginjak kelas enam SD, untuk ikut ujian akhir nasionl.
Kejadian ini memberi warna trauma pada dia dan memberikan stimulasi untuk terus berpikir, ada apa dengan dirinya sampai sebegitu bodohnya. Pada akhirnya dia membuat suatu kesimpulan yang lumayan aneh untuk anak yang lulus SD: “Jangan pernah mengandalkan gurumu; sekali-kali jangan mengandalkan gurumu; cukup dihormati saja. Tidak pernah ada seorang penemu teori, penemu(an) ilmiah, yang disebabakan oleh pelajaran gurunya. Einstein menemukan teori E=MC2 tidak karena belajar pada seorang guru, atau diajari seorang guru. Tidak dia belajar sendiri. Inilah yang terjadi pada semua ilmuan di dunia ini.”
Kesimpulan ini sempat membawanya menjadi orang yang sedikit lebih “pintar” dari beberapa orang temannya saat dia menginjak bangku SMP dan mondok di pesantren (pernah juga dia menjadi ‘santri teladan” gara-gara kegilaan belajar sampai lupa untuk tidur. Dia tidur Cuma tiga jam dan selebihnya kebanyakan untuk membaca dan berdiskusi). Lebih baik dari pada dirinya yang menjadi orang paling bodoh di antara teman-temannya waktu SD.
Saat berada di pondok, dia seakan menemukan tempat yang enak untuk menjadi orang “aneh”: orang memegang kunci perpustakaan, orang yang awal dalam memulai berdiskusi, orang yang paling awal menghafal rumus-rumus yang tertera dalam ratusan lembar halaman buku, orang yang terdepan dalam mencuri Koran dan buku-buku, entah punya siapa, untuk dibaca dan dikembalikan lagi, tanpa sepengetahuan pemiliknya…Dia menemukan tempat yang pas untuk mempraktikkan “kesimpulan-kesimpulan”-nya waktu SD.
Pada posisi ini, dia sudah tidak peduli lagi akan sebuah nilai angka-angka. Yang dia butuhkan adalah secuil ilmu yang matang dalam proses penalarannya sendiri. Jadi dia tidak begitu senang saat dinobatkan sebagai santri teladan, bahkan dia merasa tercemooh.
Pada waktu itu ada sesuatu yang membuat dia merasa sungguh “Fauzi” (artinya, “beruntung; kemenangan”, dari bahasa Arab). Dia bisa menghitung seberapa bodoh dan seberapa pintar dirinya dibandingkan dengan dirinya yang lalu dan dibandingkan dengan teman-temannya. Dia bahkan, kalau pulang ke Madura, merasa punya sesuatu untuk dilaporkan pada almarhum ayahnya saat berziarah dan berdoa. Dia sering menangis lega dan bangga bahwa dia sudah mengerjakan perintah ayahnya yang tidak sempat dia ingat seperti apa rupanya. Ayahnya meninggal sebelum dia masuk Taman Kanak-kanak (TK).
Dia akan bercerita pada roh ayahnya bahwa dia sudah menghafal buku A, dia sudah menyelesaikan kitab B, dia sudah memahami masalah C…Dia senang karena sudah menjalankan perintah ayahnya yang dia ingat sampai sekarang, walau tidak dikatakan padanya secara langsung: “Semua anakku harus pernah mondok; yang penting kamu belajar, mengaji, dan ibadah.”
Namun dia “dipaksa” keluar dari pondok setelah sekitar empat tahun. Kondisi pondok saat itu akan membuat dia tidak akan kondusif lagi. Cuma akan membuatnya membangkang pada situasi dan kondisi pondok dan pengampunya. Dia tidak begitu memahaminya dan entah kenapa dia juga mengikutinya. Setelah itu, pergi ke Solo. Di sini dia diberi dua pilihan: mondok lagi di Sarang Jawa Tengah, atau kuliah. Dia memutuskan untuk mencoba hal yang baru, kuliah.

/3/
Kondisi di atas sedikit berbeda dengan yang dia hadapi di kampus. Pada awalanya dia mengira bahwa kondisi akademis kampus dan mahasiswa pastilah sesuatu yang sangat menarik seperti yang dia baca dalam beberapa literature, terutama karena kampus mengikuti system pendidikan sekuler Barat. Dalam tradisi pendidikan sekuler Barat, orang diajarkan untuk berperilaku skeptis, dinamis, yang penuh dengan kuriusitas akan ilmu pengetahuan. Dia ingat Rene Descartes, John Locke, Derrida...Sebenarnya hal ini sama dengan tradisi ilmiah Islam pada masa Harun Ar-Rosyid.
Maka, dengan landasan tradisi Barat itu, adalah sebuah kewajaran bahkan keharusan untuk menciptakan sebuah forum-forum terbuka untuk saling bertukar pikiran bahkan saling mempertentangkan pikiran, ide-ide, yang dikemas dalam diskusi umum, polemics, protes pemikiran dan sebagainya. Mahasiswa dan dosen sama dalam mengajukan, mengiyakan, mendukung, menolak, memprotes sebuah pemikiran atau ide. Dan yang terjadi dalam kelas kuliah adalah sebuah pertukaran ide-ide, pemikiran, konsep-konsep, bahkan teori-teori.
Kenapa harus perdebatan, pertentangan, diskusi, protes dalam forum-forum terbuka? Jawabannya sederhana: tidak ada ilmu yang pasti, absolute benar seratus persen, bahkan matematika da fisika. Kita mungkin masih ingat film Beautiful Mind yang menceritakan seorang matematikawan, John Forbes Nash (diperankan oleh Russell Crowe). Yang menarik baginya adalah sebuah lingkungan akademis yang begitu sempurna untuk mengembangkan basis pemikiran dan mencari, meneliti, bahkan, ini yang penting, menolak pemikiran yang sudah berumur 150 tahun dan dianggap benar oleh hampir seluruh pemikir yang ada kala itu.
Kita mungkin juga masih ingat peraih Nobel Perdamaian 2006, Muhammad Yunus. Dialah orang Banglades pertama dan di dunia yang meraih hadiah noble perdamaian yang bukan dari sebuah konflik fisik, namun sebuah konflik batin-akademis atas rakyat Bangladesh yang miskin. Gumam dan protesnya: “pasti ada yang salah dengan apa saya pelajari dari buku-buku tentang teori-teori ekonomi....Aku harus belajar lagi pada para pengemis jalanan...” Inilah protes, bukan sekadar otokritik, yang dilakukan oleh seorang professor ekonomi lulusan Amerika. Dia tidak percaya dan protes atas dirinya dan memang dia berhasil belajar dari para kaum miskin perempuan Bangladesh dengan Bank Kaum Miskinnya (Grameen Bank). Gumammnya dalam buku yang mencerikana keberhasilan dan jerihpayah belajarnya, “Ilmu tentang Grameen Bank tidak pernah ada dalam buku-buku.”
Dalam kondisi akademis seperti itu, dosen bukan seorang penceramah-penghotbah yang setiap ucapannya pasti benar. Pada perkembangannya dia mulai melakukan hal-hal yang lain di luar kuliah reguler. Dia, yang pada awalnya merasa bosan dan ingin tertantang, akhirnya terjebak juga tagihan.
Candu memang selalu enak dan manis pada awalnya. Namun, jika itu tidak dilakukan dengan baik, maka sebuah kecelakaan akan menimpa. Memang dia sadar akan resiko yang akan menderanya. Setiap pulang dari kampus (untuk tidak mengatakan kuliah) dia selalu ditagih oleh nurani otaknya, “ Apa yang telah kau dapatkan hari ini? Ilmu apa yang kau pelajari sepanjang waktu hari ini?” Ditanya dan ditanyakan, setiap hari. Jawaban memang tidak selalu ada. Namun yang paling menyedihkan dan menyiksanya adalah saat dia masuk kuliah namun tidak mendapatkan apa-apa.
Terkadang dia kembali pada kesimpulan-kesimpulan waktu dia masih SD dulu. Dan pada akhirnya dia akan lebih senang kalau Cuma ke kampus dan ikut seminar, pergi ke perpsus…Ada penawar dari dera pertanyaan itu, terkadang. Namun, adakalanya dua-duanya memberikan angka nol.
Pada ke sempatan lain, nurani batinnya sering kali menagih dan menginterogasinya, “Apa yang telah kaulakukan? Apakah kau mau menjadi makhluk yang tidak bertanggung jawab, terutama terhadap orang tuamu, orang yang membiayaimu—daftar disini bisa diperpanjang? Untuk pertanyaan yang menyangkut moral ini, dia selalu kalah dan tidak mempunyai jawaban yang tegas. Dia merasa kecil dan hina. Tidak ada apa-apanya.
Interogasi ini akan mencapai puncaknya saat dia pulang ke Madura. Di depan sebuah batu nisan yang tanpa nama, tapi dia tahu itu adalah ayahnya yang penuh kasih, dia tidak bersuara. Tanpa punya argumen untuk membantah, mengiyakan, menyanggah dan entah apalagi, sebagaimana biasa dia lakukan terhadap pemikir dan terhadap pendapatnya sendiri. Dia seakan kelu, bahkan tak berlidah. Diam. Hatinya bercucuran...Padahal, kau tahu, tidak ada seorang bersuarapun di sana. Sepi sunyi. Hanya sesekali beberapa angin bertiup menerpa beberapa dahan pohon dan kicauan burung-burung sedang bermain dan mencari makan.
Beberapa waktu yang lalu (bulan Maret lalu), saat dia berada di atas batu nisan itu, dia cuma sesenggukan sendiri. Menangis lirih. Pedih. Hujan yang mengguyur dirinya seperti tidak pernah menyentuh kulitnya. Tidak terasa ada deras titik-titik putih menghujam sekujur tubuhnya. Dia kalah.
Tapi, untuk beberapa waktu dia masih tetap dengan pilihannya itu. Dia sering merasakan pedih perih, namun tidak bisa dihilangkan dengan cukup berlari dan berlari dan berlari dan berlari…

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dia, secara fisik lebih jelek dan secara intelektual jauh lebih buruk lagi, jika dibandingkan dengan Chairil. Tapi dia hanya binatang jalang yang membuangkan dirinya entah ke mana. Dia mulai jauh dari teman-temannya sejak beberapa semester yang lalu. Aku tidak bisa mengikuti langkah kakinya. Aku sebenarnya sudah bosan dengan polahtingkahnya yang terlalu keakuan, egoistis-indivdualistis. Apakah telah sukses dengan gemilang pelajaran Barat tentang individualisme—bukan egoisme? Kalau aku sedikit menyimak perilakunya, sepertinya aku harus menjawab, “Iya.” Sudah ada beberapa kawannya yang mengatakan hal itu.
Bahkan ada kabar atau lebih tepatnya pertanyaan: Apakah dia itu sudah berlainan keyakinan? Ini dari salah satu temannya yang sudah pernah membaca salah satu tulisannya tentang pluraritas, “Scripta Manent: Dari Catatan Ke Gerakan, Pembelajaran, Sampai Pencerahan”. Tapi sebenarnya tulisan itu, menurut aku, tentang arti penting membaca dan menulis sebagai bagian dari ibadah tertua dan paling utama. Mungkin temannya itu terlalu fokus pada kutipan lead yang mengambil perkataan filosof Prancis, Jean Paul Sartre: “Telah ‘ku temukan agamaku; tidak ada yang lebih penting dari pada buku; aku menganggap perpustakaan sebagai tempat ibadahku.”

/4/
Terakhir, aku ingin menjadi aku, bukan dia. Aku ingin lebih perduli pada dunia, negara, guru-guruku (dosen), keluarga, teman-teman, paling tidak pada diri ini. Aku memang belum sependapat dengan Chairil:

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Aku tidak mau hidup seribu tahun lagi. Aku hendak menjadi arti. Aku masih sering bermimpi, dan masih punya satu mimpi. Tidak terlalu besar untuk sebuah mimpi. Namun sebentuk getaran yang terus menderasi kehausan jiwa ini. Ia membuat bulu kudukku bendiri. Aku merinding entah kenapa. Aku merinding setiap melihat anak kecil menangis, aku merinding setiap kali seorang ilmuan disebut, aku merindng setiap kali melihat orang yang penuh dengan semangat…
Aku masih yakin, yakin tentang mimpi itu…Walau diri ini…ahh, mari berdoa.

Surakarta, 12 April 2008




Mohamad Fauzi, Lahir 5 Mei 1984 (Ijazah) atau 18 April 1984 (KK). Kuliah di Jurusan Sastra Inggris, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Alamat Pucang Sawit RT 003 RW 014, Jebres, Surakarta, Jawa Tengah 57125. E-mail: fauzi_sukri@yahoo.co.id.

Menelusuri Jejak Situs-situs Sastra di Dunia Maya

(Bagian 1)
Oleh: Haris Firdaus

Beberapa tahun belakangan, eksistensi website atau situs sastra—sebagai media sosialisasi sastra—bisa dikatakan benar-benar redup. Selepas debat soal “sastra cyber” lewat, pelan-pelan eksistensi website sastra yang menampung dan menerima kiriman karya sastra makin tertelan hiruk pikuk sastra di lembaran-lembaran koran. Akhirnya kita harus mengakui: koran tetap menjadi “pilihan utama” mempublikasikan karya sastra. Sadar atau tidak, koran bahkan menjadi “patokan pertama” dalam menilai perkembangan sastra Indonesia hari ini.
Selain koran, milis juga menjadi tempat berlangsungnya hilir mudik karya sastra. Meski fungsi milis tentu saja jauh berbeda dengan koran, tapi mereka yang berminat ikut milis makin hari makin tambah. Jumlah karya yang dikirim ke sebuah milis sastra yang terkenal—seperti Klub Sastra Bentang atau Apresiasi Sastra, misalnya—bisa mencapai puluhan tiap harinya. “Media baru” semacam weblog juga makin diminati sebagai sarana meng-online-kan sastra. Sejumlah penulis ternama yang biasanya hanya mempublikasikan tulisan di dunia offline, belakangan ramai-ramai membuat blog pribadi.
Website sastra, sebaliknya, seolah makin tenggelam, meski eksistensi media itu tak sepenuhnya sirna. Ketika berselancar di dunia maya, kita masih tetap akan menemukan sejumlah website yang berisi sekaligus menerima kiriman karya sastra. Beberapa di antaranya kelihatan tertatih-tatih, tapi sebagian lainnya tampak prima.
Situs Titikoma.Com (http://titikoma.com), misalnya, adalah situs sastra yang kelihatan cukup prima dan “sehat bugar”. Dikelola oleh Yayasan Tanda Baca, situs ini sangat mungkin merupakan metamorfosis Situs Tandabaca.Com (saat saya mencoba membuka Situs Tandabaca.Com, ternyata situs itu sedang tidak aktif).
Dalam informasi yang tercantum di dalam situs tersebut, disebutkan bahwa: “Titikoma.Com adalah salah satu media Yayasan Tandabaca dalam bentuk majalah maya yang secara khusus hanya dapat diakses melalui internet, didekasikan untuk mewadahi aspirasi para penulis, terutama karya sastra, atau siapa pun yang ingin memublikasikan karya-karyanya.”
Titikoma.Com merupakan majalah maya yang bisa dianggap cukup lengkap. Meski hanya dikelola oleh tiga orang—Dwi Any Marsiyanti sebagai penyelaras kerja, Hasta Indrayana sebagai tukang terima naskah, dan Purwoko Hendro Winarno sebagai tukang poles web—Titikoma.Com memiliki sepuluh rubrik yang mencerminkan keragaman tipe karya yang dimuat di situs itu: dari mulai puisi, cerpen, esai, cerita bersambung, kisah pribadi, wawancara, resensi, dan tips kreatif.
Situs ini juga memiliki rubrik bernama “Keranjang Bebas” yang digunakan sebagai wadah tulisan yang tak masuk ke dalam sembilan rubrik lain, semacam novelet atau naskah drama. Selain naskah kiriman, ada dua rubrik yang digawangi dua penulis tetap, yakni “Pojok Mindring” oleh Hasta Indrayana dan “Bola Liar” oleh Puthut EA. Yang menarik—sekaligus menandakan situs ini cukup maju—Titikoma.Com ternyata menerima iklan atau promosi produk dan jasa. Dengan tarif yang tak terlampau mahal, mereka yang tertarik bisa mempromosikan usaha mereka di situs tersebut.
Situs Sastra lain yang cukup menarik adalah Puitika.Net (http://puitika.net). Seperti yang tertera pada namanya, situs ini memfokuskan diri pada puisi. Dari informasi yang saya dapat, situs tersebut merupakan media resmi dari sebuah komunitas bernama Masyarakat Puisi. Informasi di Puitika.Net menyebut Masyarakat Puisi merupakan komunitas yang didirikan oleh sejumlah anak muda yang percaya bahwa teks-teks puisi adalah sumber pengetahuan yang berharga. Masyarakat Puisi bekerja dalam bidang penelitian, dokumentasi, pengembangan jaringan, penerbitan, dan publikasi kebudayaan.
Pendirian situs Puitika.Net memiliki tujuan yang cukup puitis: “semata-mata untuk memberikan ruang yang luas bagi semua orang yang percaya bahwa puisi merupakan kekuatan yang nyata, lebih dari hanya sekedar kata-kata.” Memiliki masrkas di Malang, Situs Puitika.Net dikelola oleh sejumlah orang seperti Oktarano Sazona dan Heru Kuncahyono sebagai Editor Kepala dan Syahrirul Habib sebagai Editor Magang.
Meski hanya berfokus pada puisi, Puitika.Net juga memiliki rubrik lain yang mendukung dan berhubungan dengan puisi, seperti esai, jejak penyair, biografi, liputan, dan katalog. Beberapa rubrik dalam situs ini cukup menarik, misalnya “Biografi Penyair” yang merupakan rekam jajak para penyair Indonesia dari Sabang sampai Merauke dan dibagi berdasarkan periodisasi angkatan. (Bersambung).

Menjaring Mimpi di Tengah Laut

Oleh: Fathor Rasyid*

Hari ini adalah hari kemarin. Hari esok, mungkin hari yang saat ini ia jalani. Tak ada senyum mengambang di bibirnya. Cita-cita, harapan, dan keinginan mungkin hanya sebatas mimpi yang entah di mana harus ia tambatkan.

Seperti hari-hari kemarin, mendung di wajah Samen masih belum memudar. Matanya yang letih jauh menatap ke depan, ke sebuah gubuk yang tak pernah menaburkan senyum. Ia biarkan angin pantai mengibas-ngibaskan baju rombengnya. Sementara terik matahari menjilati kulitnya yang gelap kecoklatan.
Dengan langkah gontai, Samen terus saja berjalan, menyusuri jalan pulang, menyisiri pasir di bibir pantai, melewati orang-orang yang sedang sibuk memperbaiki jaring, mengecat perahu, atau para nelayan yang baru pulang mengarungi lautan.
Samen meninggalkan ayahnya yang masih duduk sendiri, terkapar lesu di atas pasir. "Pulanglah nak. Katakan pada ibumu, hari ini nasib belum beruntung."
Setiap hari, sebelum matahari memanahi pagi, di bibir pantai, di atas pasir yang berdesir, Samen menunggu ayahnya pulang, menunggu harapan yang mungkin datang menjelang. Harapan tentang berkeranjang-keranjang ikan yang dibawa ayahnya pulang dari tengah lautan.
Tapi, akhir-akhir ini, saat cita-cita tentang sesuatu mulai tertanam di hati Samen, lautan sebagai sandaran seolah tak membentangkan senyum. Jika pun ada hasil tangkapan ikan yang dibawa ayahnya pulang, itu hanya cukup buat makan.
"Sekolah tinggi-tinggi mau jadi apa sih nak? Es-em-pe kan sudah cukup. Lihat ayah, es-de saja nggak lulus." Ungkap ayah Samen suatu ketika, saat Samen mulai mengutarakan keinginannya untuk melanjutkan sekolah. "Sekolah itu mahal nak. Tapi jika keinginanmu itu tak bisa kau bendung, doakan saja mudah-mudahan ayah dapat ikan yang banyak."
Bukannya Samen tidak rajin mendoakan ayahnya, atau barangkali doanya tidak khusuk. Seperti yang sering diperingatkan guru ngajinya, Samen selalu bangun tengah malam untuk mendoakan Sang Ayah agar mendapat ikan banyak. Bahkan di tengah doanya, air mata Samen selalu terjatuh di sajadah yang sudah lapuk.
Tapi, doa Samen tak jua terjawab. Hingga suatu ketika Samen menghadap guru ngajinya, mempertanyakan doa yang tak terkabulkan. Tapi jawaban yang diberikan guru ngajinya membuat Samen kecewa. "Kamu harus bersabar. Barangkali Tuhan mempunyai maksud lain, Samen."
Bagi Samen, sabar bukanlah jalan keluar yang tepat untuk saat ini. Ayahnya sangat membutuhkan uang untuk membiayai sekolahnya. Tinggal menghitung beberapa hari lagi, jika ayahnya tak segera mendapatkan uang, ia tak mungkin bisa melanjutkan sekolah.
"Barangkali ada doa yang manjur Pak Kyai?"
"Murid macam apa kamu, jika diberi cobaan segitu saja, kamu tak mau bersabar. Sudah kubilang, bersabarlah! Tuhan itu maha tahu apa yang diingankan hamba-Nya." Bentak guru ngajinya yang menganggap pertayaan Samen sebagai bentuk pembangkangan seorang murid terhadap guru. Sontak, Samen mundur seribu langkah, dan pamit undur diri.
Dan juga pernah suatu ketika hati Samen dibuat berbunga-bunga saat rumahnya dikunjungi kepala sekolah es-em-pe-nya. Samen mengira kunjungan Kepala Sekolah bermaksud membantu kelanjutan sekolahnya. Tapi, jawaban yang Samen dapatkan mengecewakan. Ketika orang tua Samen menanyakan bagaimana caranya supaya Samen bisa melanjut sekolah sementara uang belum ada. "Maaf Bu, saat ini saya juga harus mengeluarkan uang banyak untuk menguliahkan tiga anak saya. Coba cari ke orang lain saja."
Saat-saat keadaan mendesak, tak mungkin orang tua Samen berharap dari hasil tangkapan ikan yang serba tak jelas. Maka ia harus mencari kepercayaan orang lain untuk mendapatkan pinjaman. Di antaranya adalah Pak Haji Sugito, juragan yang memiliki banyak perahu, sekaligus seorang rentenir. Walau begitu, orang tua Samen bertekad meminjam uang padanya.
"Maaf Pak. Bukan saya tidak mau memberikan pinjaman. Tapi sampean tak punya jaminan apa-apa yang bisa meyakinkan saya untuk memberikan pinjaman. Sekali lagi saya minta maaf, Pak." Ungkap Pak Haji Sugito dengan nada yang seolah-olah ikut merasakan derita ayah Samin.
Tidak cuma Pak Haji Sugito, Pak Lurah pun didatangi orang tua Samen. Tapi jawabannya juga sama mengecawakan.
Dan lebih menjengkelkan lagi ketika kedua orang tua Samen mendatangi Pak Solihin, seorang anggota DPR, tak sepeser pun ia memberikan pinjaman, tetapi malah menceramahi kedua orang tua Samen. Padahal sebelum terpilih, ia berjanji akan menggratiskan rumah sakit dan sekolah bagi orang-orang yang tidak mampu.
Dengan tangan hampa, orang tua Samen pulang, menemui anaknya yang menunggu kabar terbaru, kabar yang mendebarkan jantung.
"Maafkan ayah, Nak. Ayah sudah pontang-panting cari utangan. Ayah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, nak. Jika kamu memang benar-benar tidak bisa melanjutkan sekolah, bapak mohon terimalah dengan lapang." Ungkap ayah Samen suatu ketika sebelum pergi melaut.
"Iya Nak. Usaha ayahmu sudah mentok. Kamu tahu sendirikan!? Kami sudah tidak bisa apa-apa lagi." Sambung ibu Samen membenarkan.
Samen tak berkomentar apa-apa. Wajahnya tertunduk, menyembunyikan air muka yang menggaritkan kecewa. Tapi kepada siapa kekecewaan itu ia lontarkan. Tak mungkin kepada orang tuanya, atau pula orang-orang yang tak memberinya uang pinjaman.
"Samen, dulu ayah tak pernah berpikir kalau kau punya keinginan untuk melanjutkan sekolah. Aku kira kau seperti ayahmu ini, yang tak pernah ada keinginan untuk sekolah. Belum tamat es-de ayah sudah melaut. Tapi, setelah mengetahui prestasimu dari es-de sampai es-em-pe, ayah mulai berpikir, kau memang pantas terus bersekolah. Apalagi tetangga, teman-temanmu, guru-gurumu, sampai kepala sekolahmu menyarankan. Rasanya semakin kuat keinginan ayah untuk menyekolahkanmu, nak. Tapi inilah kenyataan yang kita hadapi. Mereka hanya bisa menyuruh, memberi saran, tapi mereka tak mau tahu dan tak pernah mau memberikan jalan keluar atas masalah yang kita hadapi. Jadi jangan kau berpikir kalau ayah tak berkeinginan menyekolahkanmu." Sembari menghisap lintingan dan mereguk secangkir kopi bikinan istrinya yang mulai dingin, ia teruskan pembicaraannya. "Tetapi baiklah Samen, beberapa hari lagi penerimaan siswa baru akan ditutup. Sebab itu doakanlah ayah, barangkali keajaiban terjadi. Siapa tahu ayah memperoleh tangkapan ikan yang besar, sehingga kita bisa menjualnya dan kita mendapatkan cukup untuk uang untuk sekolahmu."
Sejak itu, setiap matahari memanahi pagi, saat debur ombak mulai surut, di pinggir pantai, mata Samen manatap penuh harap jauh ketengah laut, menunggu layar ayahnya mengambang.
Saat perahu yang ditumpangi ayahnya mulai merapat, sekitar lima puluh meter dari bibir pantai, seperti anak-anak lainnya, Samen pun lari lalu berenang menerobos gulungan ombak, menepis buih dan juga ikut mengerumuni perahu.
Tapi saat air muka ayahnya terlihat masam, Samen tak berusaha mendekat. Biasanya ia akan berlama-lama di pantai, membiarkan tubuhnya digulung ombak ke bibir pantai, hingga ayahnya memanggil dan menyuruhnya pulang. "Samen, cepatlah pulang. Bawalah ikan ini untuk lauk di rumah."
Tanpa bicara atau beradu-tatap, Samen segera bergegas pergi. Meninggalkan ayahnya yang beku dalam tanya. "Samen, apa kau marah padaku, nak?" Desis ayahnya saat Samen terlihat mengecil dalam pandangan.
Begitulah seterusnya, hingga saat ini, saat langkah kakinya mulai letih menyisiri pasir bibir pantai, menyusuri jalan pulang untuk menyampaikan pesan dari ayahnya bahwa nasib tak lagi mujur.
* * *
"Kamu harus bisa menerima kenyataan, nak." Begitulah himbau ayah Samen. Ia masih juga belum bisa mewujudkan mimipi-mimpinya. Mimpi tentang bangku sekolah, tentang teman yang nakal, guru yang galak, dan segala mimpi yang dapat membuat kenangan tersendiri bagi Samen.
Dan kini mimpi itu benar-benar lenyap dari kehidupan Samen. Kenyataan yang sangat memukul itu begitu sulit diterima. Hingga perubahan dalam diri Samen mulai tampak.
"Pergi saja kau. Di sini kau tak menguntungkan bagiku. Pergi jauh...! Hatimu telah disusupi iblis. Pergi! Aku tak butuh kamu." Serapah guru ngaji Samen saat sikapnya di mata sang guru mulai tak patuh.
Samen lebih suka menyendiri. Kadang ia berlama-lama di bibir pantai, duduk sendiri, matanya menatap jauh ke samudra yang biru.
Banyak orang mengira Samen mengalami gangguan jiwa. Dan sebagian mengatakan kesurupan. Lebih parah lagi, Samen mulai jarang di rumah, sehari pulang, sehari tidak.
Plaakk... Tamparan mendarat di pipi Samen. "Ke mana saja kau keluyuran?!" Bentak ayah hilang kendali. "Kau mau jadi apa, hah!?" Tambah ayahnya lebih keras lagi.
"Sudah Kang. Tak baik bersikap seperti itu terhadap anak sendiri. Ini tak akan menyelesaikan persoalan, malah akan menambah persoalan baru. Sudah kang, mari kita bicara baik-baik." Pinta ibu Samen.
"Sikap Samen ini sudah keterlaluan. Jika dibiarkan, ia akan semakin menjadi-jadi dan semakin menyiksa orang tua."
"Sudahlah Kang..." Ibu Samen menghiba, sembari memegang kedua tangan kekar suaminya. Kemudian bersimpuh di kaki suaminya, memohon ampun.
"Maafkan anak kita kang. Maafkanlah dia!" perempuan itu sesenggukan. "Ingat kang, ingat... Dia itu anak kita satu-satunya. Ia adalah harapan kita. Tak ada lain, tak ada, kecuali dia."
Seketika itu air muka ayah Samen yang sedari tadi seperti hangus terbakar, sedikit demi sedikit mereda. Ia rundukkan wajah dalam-dalam, merenung.
"Maafkan ayah, nak. Ayah hanya takut kau jadi anak durhaka. Ayah ingin kau jadi anak baik-baik."
Dengan meraih kedua pundak Samen, ia kembali berkata, "ayah tahu kau di hantui rasa sesal, karena nasibmu tak seperti mereka. Ayah tahu kau kecewa, karena kau punya orang tua yang tak mampu menyekolahkanmu. Seharusnya ayah memenuhi keinginanmu."
Mendengar kata maaf yang ganjil itu, tubuh Samen tiba-tiba menggigil. Kelopak matanya pun mulai basah. Tapi suara tangisnya tak terdengar.
Dari bibirnya yang bergetar, lirih ia berkata, "Maafkan aku ayah. Selama ini aku tak mau mengerti ayah. Ayah, mulai besok aku akan ikut ayah melaut. Ajari aku menjadi jurumudi. Barangkali di sanalah sebenarnya mimpiku berada"
"Jangan nak. Kau jangan seperti ayah. Jalanmu masih panjang. Raihlah cita-citamu melebihi tinggi bintang."
"Bagiku, menjadi seperti ayah atau tidak, sama saja. Dulu Pak Kyai pernah bilang, percuma jadi orang pintar jika tidak bermoral. Dan sekarang aku putuskan, aku akan menjadi seperti ayah, mengarungi luasnya lautan."


Parangtritis, Juli 2008
*Cerpenis adalah Penyair, Essais.
Lahir di Sumenep 22 November 1992.
Bergiat pada sanggar Kutub Yogyakarta.
Dan saat ini berdomisili di Jalan Minggiran MJ II/1477 Yogyakarta.
Berbagai tulisannya telah di publikasikan diberbagai media,
lokal dan nasional.
Telp: 081904040582